Sumber : http://bocah-alus.blogspot.com/2013/08/membuat-menu-tab-view-untuk-widget-blog.html#ixzz35pVWYs6r

welcome to my blog

Jumat, 27 Juni 2014

MAKALAH : PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
            Kemajuan kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan. Pendidikan yang tertata dengan baik dapat menciptakan generasi yang berkualitas, cerdas, adaptif, dan bermoral. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, Departemen Pendidikan Nasional telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain dengan mengadakan berbagai pelatihan dan peningkatan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaaan, buku, alat pelajaran, dan masih banyak lagi. Meskipun demikian hasilnya masih jauh memuaskan.
            Suatu hal yang merupakan pencerahan dalam pendidikan kita saat ini, karena berkembangnya pemikiran dikalangan para ahli pendidikan bahwa anak akan belajar lebih baik jka lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna apabila anak “mengalami” apa yang dipelajarinya tidak hanya mengetahui saja. Menurut Nurhadi (2002), pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa, strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian pendekatan kontekstual (CTL)?
2.      Apa karakteristik Contextual Teaching and Learning?
3.      Apa saja komponen Contextual Teaching and Learning?



C.    TUJUAN
1.      Menjelaskan pengertian pendekatan kontekstual (CTL).
2.      Menjelaskan karakteristik Contextual Teaching and Learning.
3.      Menjelaskan komponen-komponen Contextual Teaching and Learning.

BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
Pendekatan kontekstual merupakan suatu pendekatan yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Pembelajaran ini memotivasi siswa untuk menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas, dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, serta sebagai anggota masyarakat.
  A.    Pengertian Pendekatan Kontekstual (CTL)
      Pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran afektif, yaitu konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang sebenarnya (Nurhadi, 2002:5).
Johnson (dalam Nurhadi, 2002:12) merumuskan pengertian CTL sebagai suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian sebenarnya.
      Pendekatan CTL menurut Suyanto (2003:2) merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata pelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.

  B.     Karakteristik Contextual Teaching and Learning
Menurut Johnson (dalam Nurhadi, 2002:14) terdapat delapan utama yang menjadi karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu (1) melakukan hubungan yang bermakna, (2) mengerjakan pekerjaan yang berarti, (3) mengatur cara belajar sendiri, (4) bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) mengasuh atau memelihara pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian sebenarnya. Nurhadi (2003:20) menyebutkan dalam kontekstual mempunyai sebelas karakteristik antara lain yaitu (1) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi, (6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9) siswa aktif, guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain, serta (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.Priyatni (2002:2) menyatakan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dengan CTL memiliki karakteristik sebagai berikut.
1)      Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah dalam
konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2)      Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3)      Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa melalui proses mengalami (learning by doing).
4)      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi (learning in a group).
5)      Kebersamaan, kerja sama saling memahami dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to knot each other deeply).
6)      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, kreatif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to York together).
7)      Pembelajaran dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).

  C.    komponen Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut :
1)      Konstruktivisme (construktivism).
Konstruktivisme merupakan landasan filosofi pendekatan CTL yang menyatakan bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit dan tidak sekonyong-konyong). Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mengingat pengetahuan. Konsep konstruktivisme menuntut siswa untuk dapat membangun arti dari pengalaman baru pada pengetahuan tertentu. Priyatni (2002:2) menyebutkan bahwa pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif dari pengalaman atau pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.

(2)
Inkuiri (inquiry).
Menemukan merupakan strategi belajar dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun materinya.
Inkuiri adalah siklus proses dalam membangun pengetahuan yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Inkuiri diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep atau fenomena dan dilanjutkan dengan melaksana
kan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan. Priyatni (2002:2) menjelaskan bahwa inkiri dimulai dari kegiatan mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara (hipotesis), mengumpulkan data, dan merumuskan teori sebagai kegiatan terakhir.

(3) Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan keahlian dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahuinya, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. Konsep ini berhubungan dengan kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan sebagai wujud pengetahuan yang dimiliki. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

(4) Masyarakat belajar (learning commnunity)
Masyarakat belajar merupakan penciptaan lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual (CTL). Masyarakat belajar adalah kelompok belajar yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Aplikasinya dapat berwujud dalam pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, atau belajar dengan teman-teman lainnya. Belajar bersama dengan orang lain lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri. Konsep masyarakat belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari berbagi pengalaman antarteman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang tidak tahu. Pembelajaran kontekstual dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya heterogen sehingga sehingga akan terjadi kerja sama antara siswa yang pandai dengan siswa yang lambat. Kegiatan masyarakat belajar difokuskan pada aktivitas berbicara dan berbagai pengalaman dengan orang lain. Priyatni (2002:3) menyebutkan bahwa aspek kerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik adalah tujuan pembelajaran yang menerapkan learning community.

(5) Pemodelan (modelling)
Model merupakan acuan pencapaian kompetensi dalam pembelajaran kontekstual. Konsep ini berhubungan dengan kegiatan mendemonstrasikan suatu materi pelajaran agar siswa dapat mencontoh atau agar dapat ditiru, belajar atau melakukan dengan model yang diberikan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model, siswa juga dapat berperan aktif dalam mencoba menghasilkan model. Priyatni (2002:3) menyatakan bahwa kegiatan pemberian model bertujuan untuk membahasakan gagasan yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa untuk belajar, atau melakukan apa yang kita inginkan agar siswa melakukannya.

(6) Refleksi (reflction)
Refleksi merupakan langkah akhir dari belajar dalam pembelajaran kontruktivisme. Konsep ini merupakan proses berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Proses telaah terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman yang dihubungkan dengan apa yang telah dipelajari siswa, dan memotivasi munculnya ide-ide baru. Refleksi berarti melihat kembali suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman dengan tujuan untuk mengidentifikasi hal yang telah diketahui, dan hal yang belum diketahui. Realisasinya adalah pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu. Priyatni (2002:3) menjelaskan bahwa kegiatan refleksi adalah kegiatan memikirkan apa yang telah kita pelajari, menelaah, dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, dan memberikan masukan-masukan perbaikan jika diperlukan.

(7) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).
Penilaian yang sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian ditekankan pada proses pembelajarannya, maka data dan informasi yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajarannya. Penilaian yang sebenarnya merupakan tindakan menilai kompetensi siswa secara nyata dengan menggunakan berbagai alat dan berbagai teknik tes, portofolio, lembar observasi, unjuk kerja, dan sebagainya. Prosedur penilaian yang menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa secara nyata. Penilaian yang sebenarnya ditekankan pada pembelajaran yang seharusnya membantu siswa agara mamapu mempelajari sesuatu, bukan hanya memperoleh informasi pada akhir periode. Kemajuan belajar siswa dinilai bukan hanya yang berkaitan dengan nilai tetapi lebih pada proses belajarnya.

D. Implementasi Pembelajaran Kontekstual di Kelas
Pembelajaran berbasis konstekstual dengan sendirinya akan membawa implikasi-implikasi tertentu ketika guru menerapkannya di dalam kelas. Menurut Zahorik (Nurhadi, 2002: 7) terdapat lima elemen penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu:
1.      Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
2.      Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge), yaitu dengan cara memperlajari secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian memperhatikan detailnya.
3.      Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep sementara atau hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan atau validasi dan atas dasar tanggapan itu konsep tersebut direvisi atau dikembangkan.
4.      Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
5.      Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

E.Penilaian Pembelajaran Kontekstual
Berkaitan dengan proses pembelajaran kontekstual, sistem evaluasi yang digunakan adalah penilaian autentik, yaitu evaluasi kemampuan siswa dalam konteks dunia yang sebenarnya, penilaian kinerja (performance), penilaian portofolio (kumpulan hasil kerja siswa), observasi sistematik (dampak kegiatan pembelajaran terhadap sikap siswa), dan jurnal (buku tanggapan). Menurut Enoh (2004: 23) dijelaskan bahwa evaluasi dalam pembelajaran kontekstual dilakukan tidak terbatas pada evaluasi hasil (ulangan harian, cawu, tetapi juga berupa kuis, tugas kelompok, tugas individu, dan ulangan akhir semester) tetapi juga dapat dilakukan evaluasi proses. Dengan demikian akan diketahui kecepatan belajar siswa, walau akhirnya akan dibandingan dengan standar yang harus dicapai. Adapun metode penilaian yang digunakan dalam pembelajaran pendekatan kontekstual adalah:
1.      Diskusi: kemampuan siswa berbicara, mengemukakan ide, dsb.
2.      Wawancara: kemampuan siswa dalam memahami konsep dan kedalamannya.
3.      Paper & Pencil Test: berbagai jenis tes dengan tingkat pemikiran yang tinggi.
4.      Observasi: menilai sikap dan perilaku siswa.
5.      Demonstrasi: kemampuan mentransformasikan ide-ide ke dalam sesuatu yang konkret dan dapat diamati melalui penglihatan, pendengaran, seni, drama pergerakan, dan atau musik.

BAB III
PENUTUP
  A.    Simpulan
Pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pembelajaran kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut :
1)      Konstruktivisme (construktivism)
2)      Inkuiri (inquiry)
3)      Bertanya (questioning)
4)      Masyarakat belajar (learning commnunity)
5)      Pemodelan (modelling)
6)      Refleksi (reflction)
7)      Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
      Pembelajaran berbasis konstekstual dengan sendirinya akan membawa implikasi-implikasi tertentu ketika guru menerapkannya di dalam kelas.
Lima elemen penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu :
1.      Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
2.      Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge), yaitu dengan cara memperlajari secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudian memperhatikan detailnya.
3.      Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep sementara atau hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan atau validasi dan atas dasar tanggapan itu konsep tersebut direvisi atau dikembangkan.
4.      Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
5.      Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.

      B.     Saran
Untuk mahasiswa/i calon pendidik, ada baiknya mempelajari dengan sungguh-sungguh pendekatan kontekstual ini sebagai bekal menjadi guru aktif yang mencerdaskan siswa/i nya.
Untuk guru-guru yang sudah terjun langsung di sekolah dan mengajar, sebaiknya juga mempelajari pendekatan kontektual ini untuk menambah variasi cara mengajar siswa.
Untuk pembaca, semoga apa yang penulis sajikan dalam makalah ini berguna, tidak hanya di bidang pendidikan tapi juga dapat dicoba untuk diterapkan pada disiplin ilmu lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas.(2002).Managemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. (Buku 5).Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Enoh, Muhammad. (2004).Jurnal Imu Pendidikan: Implementasi Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi Matapelajaran Geografi SMU/SMA.Surabaya: LPTK & ISPI.
Nurhadi.(2002). Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas Dirjen Dikdasmen.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar