BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Kemajuan
kehidupan suatu bangsa sangat ditentukan oleh pendidikan. Pendidikan yang
tertata dengan baik dapat menciptakan generasi yang berkualitas, cerdas,
adaptif, dan bermoral. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, Departemen
Pendidikan Nasional telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu
pendidikan, antara lain dengan mengadakan berbagai pelatihan dan peningkatan
kualitas guru, penyempurnaan kurikulum, pengadaaan, buku, alat pelajaran, dan
masih banyak lagi. Meskipun demikian hasilnya masih jauh memuaskan.
Suatu
hal yang merupakan pencerahan dalam pendidikan kita saat ini, karena
berkembangnya pemikiran dikalangan para ahli pendidikan bahwa anak akan belajar
lebih baik jka lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna
apabila anak “mengalami” apa yang dipelajarinya tidak hanya mengetahui saja.
Menurut Nurhadi (2002), pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu,
hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan
mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa, strategi pembelajaran lebih
dipentingkan daripada hasil.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
pengertian pendekatan kontekstual (CTL)?
2. Apa
karakteristik Contextual Teaching and Learning?
3. Apa
saja komponen Contextual Teaching and Learning?
C.
TUJUAN
1. Menjelaskan
pengertian pendekatan kontekstual (CTL).
2. Menjelaskan
karakteristik Contextual Teaching and Learning.
3. Menjelaskan
komponen-komponen Contextual Teaching and Learning.
BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN
KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING)
Pendekatan
kontekstual merupakan suatu pendekatan yang membantu guru mengaitkan isi materi
pelajaran dengan keadaan dunia nyata. Pembelajaran ini memotivasi siswa untuk
menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas, dan penerapannya dalam
kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, serta sebagai anggota masyarakat.
A.
Pengertian
Pendekatan Kontekstual (CTL)
Pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan
tujuh komponen utama pembelajaran afektif, yaitu konstruktivisme, bertanya,
menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian yang
sebenarnya (Nurhadi, 2002:5).
Johnson (dalam Nurhadi, 2002:12) merumuskan pengertian CTL sebagai suatu
proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam bahan
pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks
kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya,
dan budayanya. Untuk mencapai tujuan tersebut,
sistem CTL, akan menuntun siswa ke semua komponen utama CTL, yaitu melakukan
hubungan yang bermakna, mengerjakan pekerjaan yang berarti, mengatur cara
belajar sendiri, bekerja sama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara atau
merawat pribadi siswa, mencapai standar yang tinggi, dan menggunakan penilaian
sebenarnya.
Pendekatan CTL menurut Suyanto (2003:2) merupakan suatu
pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan
pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh dalam berbagai macam mata
pelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke
dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara
siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas,
sedikit demi sedikit, dan dari proses mengonstruksi sendiri, sebagai bekal
untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sehari-hari.
B.
Karakteristik
Contextual Teaching and Learning
Menurut Johnson (dalam
Nurhadi, 2002:14) terdapat delapan utama yang menjadi karakteristik
pembelajaran kontekstual, yaitu (1) melakukan hubungan yang bermakna, (2)
mengerjakan pekerjaan yang berarti, (3) mengatur cara belajar sendiri, (4)
bekerja sama, (5) berpikir kritis dan kreatif, (6) mengasuh atau memelihara
pribadi siswa, (7) mencapai standar yang tinggi, dan (8) menggunakan penilaian
sebenarnya. Nurhadi (2003:20) menyebutkan dalam kontekstual mempunyai
sebelas karakteristik antara lain yaitu (1) kerja sama, (2) saling menunjang,
(3) menyenangkan, (4) belajar dengan bergairah, (5) pembelajaran terintegrasi,
(6) menggunakan berbagai sumber, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan teman, (9)
siswa aktif, guru kreatif, (10) dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan
hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain-lain, serta (11)
laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan
hasil praktikum, karangan siswa, dan lain-lain.Priyatni (2002:2) menyatakan
bahwa pembelajaran yang dilaksanakan dengan CTL memiliki karakteristik sebagai
berikut.
1)
Pembelajaran
dilaksanakan dalam konteks yang autentik, artinya pembelajaran diarahkan agar
siswa memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah dalam
konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
konteks nyata atau pembelajaran diupayakan dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2)
Pembelajaran memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful
learning).
3)
Pembelajaran
dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa melalui proses
mengalami (learning by doing).
4)
Pembelajaran dilaksanakan
melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi (learning in a group).
5)
Kebersamaan, kerja sama
saling memahami dengan yang lain secara mendalam merupakan aspek penting untuk
menciptakan pembelajaran yang menyenangkan (learning to knot each other deeply).
6)
Pembelajaran
dilaksanakan secara aktif, kreatif, kreatif, dan mementingkan kerja sama
(learning to ask, to inquiry, to York together).
7)
Pembelajaran
dilaksanakan dengan cara yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).
C.
komponen
Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran
kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut :
1) Konstruktivisme
(construktivism).
Konstruktivisme
merupakan landasan filosofi pendekatan CTL yang menyatakan bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas (sempit dan tidak sekonyong-konyong). Strategi
pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak
siswa mengingat pengetahuan. Konsep konstruktivisme menuntut siswa untuk dapat
membangun arti dari pengalaman baru pada pengetahuan tertentu. Priyatni (2002:2)
menyebutkan bahwa pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan
terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif dari
pengalaman atau pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang
bermakna. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan
masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan
ide-ide. Siswa harus mengonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
(2) Inkuiri (inquiry).
Menemukan merupakan
strategi belajar dari kegiatan pembelajaran kontekstual. Pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat
fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang
kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun materinya.
Inkuiri adalah siklus proses dalam membangun pengetahuan yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Inkuiri diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep atau fenomena dan dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan. Priyatni (2002:2) menjelaskan bahwa inkiri dimulai dari kegiatan mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara (hipotesis), mengumpulkan data, dan merumuskan teori sebagai kegiatan terakhir.
Inkuiri adalah siklus proses dalam membangun pengetahuan yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Inkuiri diawali dengan pengamatan untuk memahami konsep atau fenomena dan dilanjutkan dengan melaksanakan kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan. Priyatni (2002:2) menjelaskan bahwa inkiri dimulai dari kegiatan mengamati, bertanya, mengajukan dugaan sementara (hipotesis), mengumpulkan data, dan merumuskan teori sebagai kegiatan terakhir.
(3) Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan
keahlian dasar yang dikembangkan dalam pembelajaran CTL. Bertanya dalam
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan
menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan
bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inkuiri, yaitu
menggali informasi, mengonfirmasikan apa yang sudah diketahuinya, dan
mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahui. Konsep ini berhubungan
dengan kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa.
Pertanyaan sebagai wujud pengetahuan yang dimiliki. Tanya jawab dapat
diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru,
atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
(4) Masyarakat belajar (learning commnunity)
Masyarakat belajar
merupakan penciptaan lingkungan belajar dalam pembelajaran kontekstual (CTL).
Masyarakat belajar adalah kelompok belajar yang berfungsi sebagai wadah
komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Aplikasinya dapat berwujud dalam
pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke
kelas, atau belajar dengan teman-teman lainnya. Belajar bersama dengan orang
lain lebih baik dibandingkan dengan belajar sendiri. Konsep masyarakat
belajar menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan
orang lain. Hasil belajar diperoleh dari berbagi pengalaman antarteman,
antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang tidak tahu. Pembelajaran
kontekstual dilaksanakan dalam kelompok-kelompok belajar yang anggotanya
heterogen sehingga sehingga akan terjadi kerja sama antara siswa yang pandai
dengan siswa yang lambat. Kegiatan masyarakat belajar difokuskan pada aktivitas
berbicara dan
berbagai pengalaman dengan orang lain. Priyatni (2002:3) menyebutkan bahwa aspek
kerja sama dengan orang lain untuk menciptakan pembelajaran yang lebih baik
adalah tujuan pembelajaran yang menerapkan learning community.
(5) Pemodelan (modelling)
Model merupakan acuan
pencapaian kompetensi dalam pembelajaran kontekstual. Konsep ini berhubungan
dengan kegiatan mendemonstrasikan suatu materi pelajaran agar siswa dapat
mencontoh atau agar dapat ditiru, belajar atau melakukan dengan model yang
diberikan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model, siswa
juga dapat berperan aktif dalam mencoba menghasilkan model. Priyatni (2002:3)
menyatakan bahwa kegiatan pemberian model bertujuan untuk membahasakan gagasan
yang kita pikirkan, mendemonstrasikan bagaimana kita menginginkan para siswa
untuk belajar, atau melakukan apa yang kita inginkan agar siswa melakukannya.
(6) Refleksi (reflction)
Refleksi merupakan
langkah akhir dari belajar dalam pembelajaran kontruktivisme. Konsep ini
merupakan proses berpikir tentang apa yang telah dipelajari. Proses telaah
terhadap kejadian, aktivitas, dan pengalaman yang dihubungkan dengan apa yang
telah dipelajari siswa, dan memotivasi munculnya ide-ide baru. Refleksi berarti
melihat kembali suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman dengan tujuan untuk
mengidentifikasi hal yang telah diketahui, dan hal yang belum diketahui.
Realisasinya adalah pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu,
catatan di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari
itu. Priyatni (2002:3) menjelaskan bahwa kegiatan refleksi
adalah kegiatan memikirkan apa yang telah kita pelajari, menelaah, dan
merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam
pembelajaran, dan memberikan masukan-masukan perbaikan jika diperlukan.
(7) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).
Penilaian yang
sebenarnya merupakan proses pengumpulan berbagai data dan informasi yang bisa
memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran kontekstual,
penilaian ditekankan pada proses pembelajarannya, maka data dan informasi yang
dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat
melakukan proses pembelajarannya. Penilaian
yang sebenarnya merupakan tindakan menilai kompetensi siswa secara nyata dengan
menggunakan berbagai alat dan berbagai teknik tes, portofolio, lembar
observasi, unjuk kerja, dan sebagainya. Prosedur penilaian yang menunjukkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa secara nyata. Penilaian yang
sebenarnya ditekankan pada pembelajaran yang seharusnya membantu siswa agara
mamapu mempelajari sesuatu, bukan hanya memperoleh informasi pada akhir
periode. Kemajuan belajar siswa dinilai bukan hanya yang berkaitan dengan nilai
tetapi lebih pada proses belajarnya.
D. Implementasi
Pembelajaran Kontekstual di Kelas
Pembelajaran
berbasis konstekstual dengan sendirinya akan membawa implikasi-implikasi
tertentu ketika guru menerapkannya di dalam kelas. Menurut Zahorik (Nurhadi,
2002: 7) terdapat lima elemen penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam
praktek pembelajaran kontekstual, yaitu:
1. Pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
2. Pemerolehan
pengetahuan baru (acquiring knowledge), yaitu dengan cara memperlajari secara
keseluruhan terlebih dahulu, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman
pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep
sementara atau hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat
tanggapan atau validasi dan atas dasar tanggapan itu konsep tersebut direvisi
atau dikembangkan.
4. Mempraktekkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
5. Melakukan
refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan
tersebut.
E.Penilaian
Pembelajaran Kontekstual
Berkaitan dengan proses pembelajaran kontekstual, sistem
evaluasi yang digunakan adalah penilaian autentik, yaitu evaluasi kemampuan
siswa dalam konteks dunia yang sebenarnya, penilaian kinerja (performance),
penilaian portofolio (kumpulan hasil kerja siswa), observasi sistematik (dampak
kegiatan pembelajaran terhadap sikap siswa), dan jurnal (buku tanggapan). Menurut
Enoh (2004: 23) dijelaskan bahwa evaluasi dalam pembelajaran kontekstual
dilakukan tidak terbatas pada evaluasi hasil (ulangan harian, cawu, tetapi juga
berupa kuis, tugas kelompok, tugas individu, dan ulangan akhir semester) tetapi
juga dapat dilakukan evaluasi proses. Dengan demikian akan diketahui kecepatan
belajar siswa, walau akhirnya akan dibandingan dengan standar yang harus
dicapai. Adapun metode penilaian yang digunakan dalam pembelajaran pendekatan
kontekstual adalah:
1. Diskusi:
kemampuan siswa berbicara, mengemukakan ide, dsb.
2. Wawancara:
kemampuan siswa dalam memahami konsep dan kedalamannya.
3. Paper
& Pencil Test: berbagai jenis tes dengan tingkat pemikiran yang tinggi.
4. Observasi:
menilai sikap dan perilaku siswa.
5. Demonstrasi:
kemampuan mentransformasikan ide-ide ke dalam sesuatu yang konkret dan dapat
diamati melalui penglihatan, pendengaran, seni, drama pergerakan, dan atau
musik.
BAB
III
PENUTUP
A.
Simpulan
Pendekatan kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Pembelajaran
kontekstual (CTL) memiliki tujuh komponen utama, yaitu sebagai berikut :
1)
Konstruktivisme
(construktivism)
2)
Inkuiri (inquiry)
3)
Bertanya (questioning)
4)
Masyarakat belajar
(learning commnunity)
5)
Pemodelan (modelling)
6)
Refleksi (reflction)
7)
Penilaian yang
sebenarnya (authentic assessment)
Pembelajaran
berbasis konstekstual dengan sendirinya akan membawa implikasi-implikasi
tertentu ketika guru menerapkannya di dalam kelas.
Lima
elemen penting yang harus diperhatikan oleh guru dalam praktek pembelajaran
kontekstual, yaitu :
1. Pengaktifan
pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
2. Pemerolehan
pengetahuan baru (acquiring knowledge), yaitu dengan cara memperlajari secara
keseluruhan terlebih dahulu, kemudian memperhatikan detailnya.
3. Pemahaman
pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep
sementara atau hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat
tanggapan atau validasi dan atas dasar tanggapan itu konsep tersebut direvisi
atau dikembangkan.
4. Mempraktekkan
pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge).
5.
Melakukan refleksi
(reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut.
B. Saran
Untuk mahasiswa/i calon
pendidik, ada baiknya mempelajari dengan sungguh-sungguh pendekatan kontekstual
ini sebagai bekal menjadi guru aktif yang mencerdaskan siswa/i nya.
Untuk guru-guru yang sudah terjun langsung di sekolah dan
mengajar, sebaiknya juga mempelajari pendekatan kontektual ini untuk menambah
variasi cara mengajar siswa.
Untuk
pembaca, semoga apa yang penulis sajikan dalam makalah ini berguna, tidak hanya
di bidang pendidikan tapi juga dapat dicoba untuk diterapkan pada disiplin ilmu
lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Depdiknas.(2002).Managemen
Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah: Pembelajaran dan Pengajaran Kontekstual. (Buku 5).Jakarta:Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Enoh, Muhammad. (2004).Jurnal Imu Pendidikan: Implementasi Contextual Teaching and Learning (CTL)
dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi Matapelajaran Geografi SMU/SMA.Surabaya:
LPTK & ISPI.
Nurhadi.(2002). Pendekatan
Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas Dirjen
Dikdasmen.

